1.5 Gangguan Usus Kronis

Begitu dipastikan tumor, gejala gangguan usus kronis yang muncul pada pasien, memerlukan terapi khusus termasuk penyesuaian makanan, terapi obat dan terapi pemeliharaan berupa asupan cairan

Inflammatory bowel disease
Chronic inflammatory bowel disease termasuk kolitis ulseratif dan penyakit Crohn. Penanganan yang efektif memerlukan terapi obat, perhatian terhadap nutrisi, dan pada penyakit aktif kronik atau parah dilakukan operasi. Aminosalisilat (sulfasalazin) dan kortikosteroid (hidrokortison, prednisolon) merupakan dasar dari terapi obat.

Terapi kolitis ulseratif akut dan penyakit Crohn
Penyakit akut ringan hingga sedang yang menyerang rektum (proktitis) atau rektosigmoid (kolitis distal) awalnya diobati dengan kortikosteroid yang bekerja lokal atau aminosalisilat; sediaan sabun dan supositoria terutama berguna pada pasien yang mengalami kesulitan dalam menggunakan enema cairan.

Penyakit radang usus difus (Diffuse inflammatory bowel disease) atau penyakit yang tidak menunjukkan respons terhadap terapi lokal memerlukan terapi sistemik oral; penyakit ringan yang menyerang kolon dapat diatasi dengan aminosalisilat tunggal, sedangkan penyakit yang sedang atau tidak dapat ditangani biasanya memerlukan terapi tambahan berupa kortikosteroid oral seperti prednisolon selama 4–8 minggu. Inflammatory Bowel Disease (IBS) yang parah harus dibawa ke rumah sakit dan diterapi dengan injeksi kortikosteroid intravena; terapi lain dapat berupa terapi cairan intravena, penggantian elektrolit, transfusi darah dan mungkin juga, nutrisi parenteral dan antibiotik. Supervisi dokter spesialis diperlukan oleh pasien yang gagal memberikan respon yang memadai terhadap terapi tersebut di atas.

Infliksimab telah disetujui untuk penanganan penyakit Crohn aktif berat pada pasien yang tidak memberikan respon memadai terhadap terapi kortikosterod dan imunosupresan konvensional atau yang tidak toleran terhadap obat-obat tersebut. Infliksimab juga diizinkan untuk penanganan fistulating Crohn’s disease yang tidak dapat ditangani. Pada anak, manfaat pengobatan dengan infliksimab hanya pendek (6-8 minggu). Terapi pemeliharaan dengan infliksimab sebaiknya dipertimbangkan untuk pasien yang memberikan respon terhadap tahapan induksi awal, interval dosis yang tetap mungkin lebih dibanding dosis yang berselang.

Metronidazol bisa memberikan manfaat pada terapi penyakit Crohn aktif yang melibatkan perianal, karena aktivitas antibakterinya. Metronidazol pada dosis 0,6-1,5 g sehari dalam dosis terbagi telah digunakan; hal ini biasanya diberikan selama 1 bulan tetapi tidak lebih dari 3 bulan, karena adanya kemungkinan terjadi neuropati perifer. Antibakteri lain sebaiknya diberikan jika secara spesifik diindikasikan (misalnya sepsis yang terkait dengan penyakit perianal dan fistulas) dan untuk mengatasi pertumbuhan bakteri yang berlebih pada usus kecil.

Terapi pemeliharaan remisi kolitis ulseratif akut dan penyakit Crohn
Aminosalisilat sangat bermanfaat dalam pemeliharaan remisi kolitis ulseratif. Namun obat ini kurang efektif untuk mempertahankan remisi penyakit Crohn; formulasi mesalazin oral diizinkan untuk penanganan jangka panjang kelainan ileal. Kortikosteroid tidak sesuai untuk terapi pemeliharaan karena efek sampingnya. Infliksimab diizinkan untuk terapi pemeliharaan penyakit Crohn (tapi lihat keterangan di atas).

Terapi pendukung Inflammatory Bowel Disease
Pasien IBS sebaiknya mengkonsumsi makanan kaya serat dan rendah residu. Selama fase remisi kolitis ulseratif pasien IBS sebaiknya menghindari makanan kaya serat dan kemungkinan memerlukan antispasmodik. Obat antimotilitas seperti kodein dan loperamid serta obat antispasmodik dapat memperburuk paralisis ileus dan megakolon pada kolitis aktif, pengobatan inflamasi lebih dapat diterima.

Laksatif mungkin diperlukan pada proktitis. Diare yang disebabkan oleh kehilangan penyerapan garam empedu (seperti pada gangguan ileal tahap lanjutan atau reseksi usus) dapat diperbaiki dengan kolestiramin yang mengikat garam empedu.

Kolitis akibat antibiotika
Kolitis yang disebabkan oleh antibiotika (kolitis pseudomembran) terjadi karena kolonisasi Clostridium difficile pada kolon. Hal ini umumnya terjadi setelah terapi dengan antibiotika. Biasanya kolitis ini mula kerjanya akut, tetapi dapat berlangsung kronis; Kolitis merupakan efek yang berbahaya dari klindamisin, sedangkan beberapa antibiotika tidak menyebabkan hal tersebut. vankomisin (lihat 5.1.8.3) oral atau metronidazol (lihat 5.5.2) digunakan sebagai pengobatan khusus; vankomisin lebih dipilih untuk pasien dengan kondisi yang parah.

Penyakit divertikuler
Penyakit divertikuler diatasi dengan makanan kaya serat dan obat-obat pembentuk massa. Antispasmodik dapat mengatasi gejala kolik (lihat 1.2). Antibakteri hanya digunakan bila divertikula pada dinding usus mengalami infeksi (atas rujukan spesialis). Obat-obat antimotilitas yang memperlambat motilitas usus, misal kodein, difenoksilat, dan loperamid dapat memperburuk gejala-gejala penyakit divertikuler, oleh karena itu obat- obat tersebut dikontraindikasikan.

Irritable Bowel Syndrome
Gejala IBS umumnya berupa nyeri, konstipasi, atau diare. Pada sebagian pasien, mungkin diperlukan penanganan secara psikologis yang dapat disertai dengan pemberian antidepresan. Laksatif (pencahar; bagian 1.6) mungkin diperlukan untuk menghilangkan konstipasi. Obat antimotilitas (lihat 1.4.3) seperti loperamid dapat mengurangi diare dan antispasmodik (lihat 1.2) dapat mengurangi nyeri. Opioid dengan kerja sentral seperti kodein lebih baik dihindari karena memberi risiko ketergantungan.

Sindrom Malabsorpsi
Kondisi-kondisi tertentu memerlukan penanganan khusus dan juga pertimbangan gizi secara umum. Oleh karena itu, penyakit coeliac (enteropati gluten) biasanya memerlukan diet bebas gluten dan insufisiensi pankreas memerlukan suplemen pankreatin.