1.3.4 Penghambat Pompa Proton

Penghambat pompa proton, yaitu omeprazol, esomeprazol, lansoprazol, pantoprazol, dan rabeprazol menghambat sekresi asam lambung dengan cara menghambat sistem enzim adenosin trifosfatase hidrogen-kalium (pompa proton) dari sel parietal lambung. Penghambat pompa proton efektif untuk pengobatan jangka pendek tukak lambung dan duodenum. Selain itu, juga digunakan secara kombinasi dengan antibiotika untuk eradikasi H. pylori.

Terapi awal jangka pendek dengan penghambat pompa proton merupakan terapi pilihan pada penyakit refluks gastroesofagal dengan gejala yang berat; pasien dengan esofagitis erosif, ulseratif atau striktur yang ditegakkan melalui pemeriksaan endoskopi juga biasanya memerlukan terapi pemeliharaan dengan penghambat pompa proton.

Penghambat pompa proton juga digunakan untuk mencegah dan mengobati tukak yang menyertai penggunaan AINS. Pada pasien yang perlu melanjutkan pengobatan dengan AINS setelah tukaknya sembuh, dosis penghambat pompa proton tidak boleh dikurangi karena dapat memperburuk tukak yang tanpa disertai gejala.

Omeprazol efektif untuk pengobatan sindrom Zollinger-Ellison (termasuk untuk kasus yang resisten terhadap pengobatan lainnya). Lansoprazol, pantoprazol dan rabeprazol juga diindikasikan untuk kondisi ini.

Peringatan: Penghambat pompa proton sebaiknya digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan menyusui. Penghambat pompa proton dapat menutupi gejala kanker lambung ; perhatian khusus perlu diberikan pada orang-orang yang menunjukkan gejala-gejala yang membahayakan (turunnya berat badan yang signifikan, muntah yang berulang, disfagia, hematemesis atau melena), pada kasus-kasus seperti ini penyakit kanker lambungnya sebaiknya dipastikan terlebih dahulu sebelum dimulai pengobatan dengan penghambat pompa proton.

Efek samping: Efek samping penghambat pompa proton meliputi gangguan saluran cerna (seperti mual, muntah, nyeri lambung, kembung, diare dan konstipasi), sakit kepala dan pusing. Efek samping yang kurang sering terjadi diantaranya adalah mulut kering, insomnia, mengantuk, malaise, penglihatan kabur, ruam kulit dan pruritus. Efek samping lain yang dilaporkan jarang atau sangat jarang terjadi adalah gangguan pengecapan, disfungsi hati, udem perifer, reaksi hipersensitivitas (termasuk urtikaria, angioedema, bronko-spasmus, anafilaksis), fotosensitivitas, demam, berkeringat, depresi, nefritis interstitial, gangguan darah (seperti leukopenia, leukositosis, pansitopenia, trombositopenia), artralgia, mialgia dan reaksi pada kulit (termasuk sindroma Stevens- Johnson, nekrolisis epidermal toksik, bullous eruption). Penghambat pompa proton, dengan mengurangi keasaman lambung, dapat meningkatkan risiko infeksi saluran cerna.

Penggunaan pada anak. Hanya omeprazol yang dapat digunakan pada anak untuk pengobatan GERD dengan gejala yang parah. Lansoprazol tidak dianjurkan digunakan pada anak.

Panduan untuk penggunaan penghambat pompa proton pada anak untuk indikasi berikut:

  • Refluks gastroesofagal digunakan hanya pada gejala yang berat (kurangi dosis bila gejala berkurang) dan pada komplikasi penyakit dengan striktur, tukak, atau pendarahan (dosis penuh harus dipertahankan).
  • Tukak akibat AINS pada pasien yang memerlukan terapi AINS lebih lanjut–untuk mengobati tukak, dapat digunakan penghambat pompa proton dosis rendah.
Monografi: 

ESOMEPRAZOL

Indikasi: 

refluks gastroesofagal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD): terapi refluks esofagal erosif, pengobatan jangka panjang pada pasien yang telah sembuh dari esofagitis untuk mencegah kekambuhan, terapi simtomatis GERD; Regimen terapi kombinasi dengan antibakteri yang sesuai untuk eradikasi Helicobacter pylori dan mengobati H. pylori terkait dengan tukak duodenum; Pasien yang memerlukan terapi AINS yang berkesinambungan: mengobati tukak lambung terkait dengan terapi AINS, pencegahan tukak lambung dan duodenum terkait dengan terapi AINS pada pasien dengan risiko, pasien dinyatakan dengan risiko disebabkan oleh usianya (>60 tahun) dan riwayat tukak peptik dan terapi konkomitan dengan anti koagulan dan/atau kortikosteroid.

Peringatan: 

lihat catatan di atas, gagal ginjal (lampiran 3). Data keamanan pada kehamilan masih sangat terbatas, pemberian pada wanita hamil hanya apabila pertimbangan manfaat melebihi risiko. Hindarkan pemberian kepada wanita menyusui.

Interaksi: 

Lampiran 1 (Penghambat pompa proton).

Kontraindikasi: 

riwayat hipersensitifitas pada esomeprazol.

Efek Samping: 

lihat catatan di atas, juga dilaporkan dermatitis.

Dosis: 

Oral, GERD: terapi refluks esofagal erosif: 40 mg sekali sehari selama 4 minggu. Terapi tambahan selama 4 minggu dianjurkan untuk pasien yang esofagitisnya belum sembuh atau memiliki gejala yang menetap. Esomeprazol 40 mg hanya diberikan untuk pasien dengan mukosa C dan D rusak (berdasarkan sistem klasifikasi LA), derajatnya harus dipastikan melalui endoskopi atau diagnosa radiologi. Pasien GERD dengan derajat esofagitis erosif derajat A dan B direkomendasikan untuk diobati esomeprazol 20 mg; Pengobatan jangka panjang pada pasien yang telah sembuh dari esofagitis untuk mencegah kekambuhan: 20 mg sekali sehari; Terapi simtomatis GERD: 20 mg sekali sehari pada pasien tanpa esofagitis. Jika kontrol gejala tidak tercapai setelah 4 minggu, pasien harus diperiksa lebih jauh. Sekali gejala hilang, kontrol gejala selanjutnya dapat dicapai dengan menggunakan regimen 20 mg sekali bila diperlukan; Regimen terapi kombinasi dengan antibakteri yang sesuai untuk eradikasi H. pylori dan mengobati H.pylori terkait dengan tukak duodenum: 20 mg dikombinasikan dengan klaritromisin 500 mg, keduanya diberikan 2 kali sehari selama 7 hari. Pasien yang memerlukan terapi AINS yang berkesinambungan: mengobati tukak lambung terkait dengan terapi AINS: dosis lazim 20 mg sekali sehari dengan durasi terapi 4-8 minggu; Pencegahan tukak lambung dan duodenum terkait dengan terapi AINS pada pasien dengan risiko: 20 mg sekali sehari.
Anak-anak: esomeprazol tidak dianjurkan diberikan pada anak.
Gangguan fungsi ginjal: tidak perlu penyesuaian dosis pada gangguan fungsi ginjal. Karena terbatasnya penggunaan esomeprazol pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal berat, pemberian pada pasien ini harus hati-hati.
Gangguan fungsi hati: tidak perlu penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan fungsi hati ringan hingga sedang. Untuk pasien dengan gangguan fungsi hati berat, tidak boleh melampaui dosis maksimum 20 mg.

Keterangan: 

Konseling:
Oral: Telan seluruh tablet atau dilarutkan dalam air.
Injeksi: Injeksi intravena disuntikkan sekurang-kurangnya selama 3 menit atau melalui infus intravena, penyakit refluks gastroesofagal, 40 mg satu kali sehari; gejala penyakit refluks tanpa esofagitis, 20 mg sehari, dilanjutkan dengan pemberian oral jika mungkin.

LANSOPRAZOL

Indikasi: 

tukak duodenum dan tukak lambung ringan, refluks esofagitis.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas.

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga dilaporkan alopesia, paraestesia, bruising, purpura, petechiae, lelah, vertigo, halusinasi, bingung; jarang terjadi: ginekomastia, impotensi.

Dosis: 

tukak lambung, 30 mg sehari pada pagi hari selama 8 minggu. Tukak duodenum, 30 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu; pemeliharaan 15 mg sehari. Tukak lambung atau tukak duodenum karena AINS, 15-30 mg sekali sehari selama 4 minggu, dilanjutkan lagi selama 4 minggu jika tidak sepenuhnya sembuh; profilaksis, 15-30 mg sekali sehari.

Tukak duodenum atau gastritis karena H. pylori menggunakan regimen eradikasi (lihat 1.1).

Sindroma Zollinger-Ellison (dan kondisi hipersekresi lainnya), dosis awal 60 mg sekali sehari, selanjutnya disesuaikan dengan respons; dosis harian sebesar 120 mg atau lebih dibagi menjadi 2 dosis.

Refluks gastroesofagal, 30 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh; pemeliharaan 15-30 mg sehari.

Dispepsia karena asam lambung, 15-30 mg sehari pada pagi hari selama 2-4 minggu. Anak. Belum ada data yang cukup mengenai penggunaan lansoprazol pada anak.

NATRIUM RABEPRAZOL

Indikasi: 

lihat pada dosis tukak duodenum yang aktif, tukak lambung jinak yang aktif, simtomatis GERD dengan erosif dan tukak.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; dilaporkan juga, batuk, faringitis, rinitis, asthenia, sindrom seperti influenza; nyeri dada (kurang umum terjadi), sinusitis, bingung, infeksi saluran urin; stomatitis (jarang), ensefalopati pada penyakit hati parah, anoreksia, peningkatan berat badan

Dosis: 

tukak peptik, 20 mg sehari pada pagi hari selama 6 minggu, diikuti 6 minggu berikutnya jika tidak sembuh sepenuhnya. Tukak duodenum, 20 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, dilanjutkan 4 minggu berikutnya bila tidak sembuh sepenuhnya.

Refluks gastroesofagal, 20 mg sekali sehari selama 4-8 minggu; pemeliharaan 10-20 mg sehari; pengobatan simptomatik tanpa esofagitis, 10 mg sehari sampai 4 minggu, kemudian 10 mg sehari bila diperlukan.

Tukak peptik dan tukak duodenum akibat Helicobacter pylori, lihat pada regimen eradikasi. Sindrom Zollinger-Ellison, dosis awal 60 mg sekali sehari disesuaikan menurut respon (maksimal 120 mg sehari); dosis di atas 100 mg sehari diberikan dalam 2 dosis terbagi. Anak. Tidak dianjurkan.

OMEPRAZOL

Indikasi: 

tukak lambung dan tukak duodenum, tukak lambung dan duodenum yang terkait dengan AINS, lesi lambung dan duodenum, regimen eradikasi H. pylori pada tukak peptik, refluks esofagitis, Sindrom Zollinger Ellison.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; juga dilaporkan paraesthesia, vertigo, alopesia, ginekomastia, impotensi, stomatitis, ensefalopati pada penyakit hati yang parah, hiponatremia, bingung (sementara), agitasi dan halusinasi pada sakit yang berat, gangguan penglihatan dilaporkan pada pemberian injeksi dosis tinggi.

Dosis: 

tukak lambung dan tukak duodenum (termasuk yang komplikasi terapi AINS), 20 mg satu kali sehari selama 4 minggu pada tukak duodenum atau 8 minggu pada tukak lambung; pada kasus yang berat atau kambuh tingkatkan menjadi 40 mg sehari; pemeliharaan untuk tukak duodenum yang kambuh, 20 mg sehari; pencegahan kambuh tukak duodenum, 10 mg sehari dan tingkatkan sampai 20 mg sehari bila gejala muncul kembali.

Tukak lambung atau tukak duodenum karena AINS dan erosi gastroduodenum, 20 mg sehari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh; profilaksis pada pasien dengan riwayat tukak lambung atau tukak duodenum, lesi gastroduodenum, atau gejala dispepsia karena AINS yang memerlukan pengobatan AINS yang berkesinambungan, 20 mg sehari.

Tukak duodenum karena H. pylori menggunakan regimen eradikasi (lihat 1.3).

Sindrom Zollinger Ellison, dosis awal 60 mg sekali sehari; kisaran lazim 20-120 mg sehari (di atas 80 mg dalam 2 dosis terbagi).

Pengurangan asam lambung selama anestesi umum (profilaksis aspirasi asam), 40 mg pada sore hari, satu hari sebelum operasi kemudian 40 mg 2-6 jam sebelum operasi.

Penyakit refluks gastroesofagal, 20 mg sehari selama 4 minggu diikuti 4-8 minggu berikutnya jika tidak sepenuhnya sembuh; 40 mg sekali sehari telah diberikan selama 8 minggu pada penyakit refluks gastroesofagal yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi lain; dosis pemeliharaan 20 mg sekalis sehari.

Penyakit refluks asam (Penatalaksanaan jangka panjang), 10 mg sehari meningkat sampai 20 mg sehari jika gejala muncul kembali. Dispepsia karena asam lambung, 10-20 mg sehari selama 2-4 minggu sesuai respons. Esofagitis refluks yang menyebabkan kondisi tukak yang parah (obati selama 4-12 minggu). ANAK di atas 1 tahun, berat badan 10-20 kg, 10 mg sekali sehari, jika perlu ditingkatkan menjadi 20 mg sekali sehari; Berat badan di atas 20 kg, 20 mg sekali sehari jika perlu ditingkatkan menjadi 40 mg sehari; Pemberian harus diawali oleh dokter anak di rumah sakit.

Anak. Neonatus 700 mcg/kg bb satu kali sehari, ditingkatkan jika perlu setelah 7-14 hari menjadi 1,4 mg/kg bb, beberapa neonatus memerlukan hingga 2,8 mg/kg bb satu kali sehari; Usia 1 bulan-2 tahun: 700 mcg/kg bb satu kali sehari, ditingkatkan jika perlu menjadi 3 mg/kg bb (maks. 20 mg) satu kali sehari; Berat badan 10-20 kg, 10 mg satu kali sehari ditingkatkan jika perlu menjadi 20 mg satu kali sehari (pada kasus refluks esofagitis ulseratif yang parah, maks. 12 minggu dengan dosis lebih tinggi); Berat badan > 20 kg, 20 mg satu kali sehari ditingkatkan jika perlu menjadi 40 mg satu kali sehari (pada kasus refluks esofagitis ulseratif, maks. 12 minggu dengan dosis lebih tinggi).

Eradikasi H. pylori pada anak (dalam kombinasi dengan antibakteri, lihat 1.3): Usia 1-12 tahun, 1-2 mg/kg bb (maks. 40 mg) satu kali sehari; Usia 12-18 tahun: 40 mg satu kali sehari.

Injeksi intravena diberikan selama 5 menit atau melalui infus intravena; profilaksis aspirasi asam, 40 mg harus telah diberikan seluruhnya, 1 jam sebelum operasi. Refluks gastroesofagal, tukak duodenum dan tukak lambung, 40 mg sekali sehari hingga pemberian oral dimungkinkan.

Anak. Injeksi intravena selama 5 menit atau dengan infus intravena: Usia 1 bulan-12 tahun: dosis awal 500 mikrogram/kg bb (maks. 20 mg) satu kali sehari, ditingkatkan menjadi 2 mg/kg bb (maks. 40 mg) jika diperlukan.; Usia 12-18 tahun, 40 mg satu kali sehari.

Saran: Telan seluruh kapsul, larutkan tablet dalam air atau campur isi kapsul dengan sari buah atau yoghurt.

Pemberian pada anak: Oral, sama dengan dewasa.

Enteral: Buka kapsul omeprazol, larutkan omeprazol dalam sejumlah air secukupnya atau dalam 10 mL Natrium Bikarbonat 8,4% (1mmol Na+/mL). Biarkan selama 10 menit sebelum diberikan.

Infus intermiten intravena, encerkan larutan rekonstitusi pada kadar 400 mikrogram/mL dengan glukosa 5% atau Natrium Klorida 0,9%, berikan selama 20-30 menit.

PANTOPRAZOL

Indikasi: 

Oral 20 mg: pengobatan jangka panjang penyakit refluks sedang dan berat, simtomatis Gastro Esophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit refluks yang non erosif.

Oral 40 mg: terapi peningkatan gejala dan periode gangguan lambung dan usus halus yang memerlukan penurunan sekresi asam lambung, tukak duodenum dan tukak lambung, refluks esofagitis sedang dan berat, dalam kombinasi dengan 2 antibiotik yang sesuai untuk eradikasi pada pasien H. pylori dengan tukak peptik bertujuan untuk menurunkan kekambuhan tukak lambung dan duodenum yang disebabkan oleh mikroorganisme, sindrom Zollinger-Ellison dan kondisi hipersekresi patologis lainnya.

Injeksi: tukak duodenum dan lambung; kasus inflamasi esophagus sedang dan berat; serta untuk terap kondisi hipersekresi patologis yang terkait dengan sindrom Zollinger-Ellison atau kondisi neoplastik lainnya.

Peringatan: 

lihat keterangan di atas; gangguan ginjal (lihat Lampiran 3)

Interaksi: 

lihat Lampiran 1 (penghambat pompa proton)

Kontraindikasi: 

seharusnya tidak diberikan pada pasien yang hipersensitif pantoprazol

Efek Samping: 

lihat keterangan di atas; dilaporkan juga peningkatan trigliserida.

Dosis: 

oral, tukak peptik, 40 mg sehari pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sembuh sepenuhnya. Refluks gastroesofagal, 20-40 mg pada pagi hari selama 4 minggu, diikuti 4 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh; pemeliharaan 20 mg sehari, ditingkatkan sampai 40 mg jika gejala muncul kembali. Tukak duodenum, 40 mg sehari pada pagi hari selama 2 minggu, diikuti 2 minggu berikutnya bila tidak sepenuhnya sembuh. Tukak duodenum yang disebabkan Helicobacter pylori, lihat regimen eradikasi. Pencegahan tukak peptik dan tukak duodenum yang disebabkan AINS dengan peningkatan resiko komplikasi gastroduodenum yang membutuhkan pemberian AINS berkesinambungan, 20 mg sehari. Untuk sindrom Zollinger-Ellison (dan kondisi hipersekresi lainnya), dosis awal 80 mg sekali sehari dan disesuaikan dengan respons (LANSIA: maksimal 40 mg sehari); dosis harian di atas 80 mg diberikan dalam 2 dosis terbagi.

Injeksi intravena tidak lebih dari 2 menit atau dengan infus intravena, tukak duodenum, tukak lambung dan refluks gastroesofagal sedang hingga berat, 40 mg sehari sampai pemberian oral dapat dilanjutkan lagi. Terapi jangka panjang sindrom Zollinger-Ellison (dan kondisi hipersekresi lainnya), dosis awal 80 mg, selanjutnya dosis dititrasi (naik atau turun) sesuai kebutuhan dengan panduan pengukuran asam lambung. Untuk dosis di atas 80 mg, harus diberikan dalam dosis terbagi dan diberikan 2 kali sehari. Peningkatan dosis di atas 160 mg untuk sementara waktu diperbolehkan, namun tidak boleh digunakan lebih lama dari yang dibutuhkan untuk mengontrol asam lambung.

Dalam kasus yang memerlukan kontrol asam yang cepat, dosis awal 2 x 80 mg pantoprazol intravena cukup untuk mengendalikan penurunan asam lambung hingga target kisaran (< 10 mEq/h) dalam 1 jam pada kebanyakan pasien.

Anak: penggunaan pantoprazol oral maupun parenteral pada anak tidak dianjurkan.