1.3 Antitukak

Tukak peptik dapat terjadi di lambung, duodenum, esofagus bagian bawah, dan stoma gastroenterostomi (setelah bedah lambung).

Penyembuhan dapat dibantu dengan berbagai cara seperti penghentian kebiasaan merokok dan minum antasida dan minum obat penghambat sekresi asam, namun sering terjadi kambuh jika pengobatan dihentikan. Hampir semua tukak duodenum dan sebagian besar tukak lambung yang tidak disebabkan oleh AINS, penyebabnya adalah bakteri Helicobacter pylori. Pengobatan infeksi Helicobacter pylori dan tukak yang disebabkan oleh AINS akan dibahas di bawah ini.

Infeksi Helicobacter pylori

Penyembuhan tukak lambung dan tukak duodenum dapat dilakukan dengan cepat melalui eradikasi Helicobacter pylori. Direkomendasikan untuk memastikan terlebih dahulu adanya H. pylori sebelum memulai terapi eradikasi. Penggunaan kombinasi penghambat sekresi asam dengan antibakteri sangat efektif dalam eradikasi H.pylori. Infeksi kambuhan jarang terjadi. Kolitis karena penggunaan antibiotik merupakan risiko yang tidak umum terjadi.

Regimen terapi satu minggu yang terdiri dari 3 jenis obat yaitu penghambat pompa proton, amoksisilin dan klaritromisin atau metronidazol, dapat mengeradikasi H.pylori pada 90 % kasus. Setelah 1 minggu, obat dihentikan, kecuali terjadi komplikasi tukak seperti hemoragi atau perforasi.

Resistensi terhadap klaritromisin atau metronidazol lebih sering terjadi dibandingkan terhadap amoksisilin dan hal ini dapat terjadi pada saat terapi. Karena itu, regimen yang terdiri dari amoksisilin dan klaritromisin direkomendasikan sebagai terapi awal eradikasi dan regimen yang terdiri dari amoksisilin dan metronidazol untuk kegagalan terapi eradikasi. Ranitidin bismut sitrat dapat digunakan sebagai pengganti penghambat pompa proton. Regimen lain, termasuk kombinasi klaritromisin dan metronidazol sangat baik digunakan pada keadaan tertentu. Kegagalan terapi biasanya disebabkan oleh resistensi bakteri atau kepatuhan pasien yang rendah.

Regimen terapi dua minggu yang terdiri dari 3 jenis obat memberikan kemungkinan yang besar dalam kecepatan eradikasi dibandingkan regimen terapi satu minggu, tetapi efek samping sering terjadi dan rendahnya kepatuhan pasien akan lebih sering ditemukan.

Regimen 2 minggu terapi yang terdiri dari 2 jenis obat yaitu penghambat pompa proton dan antibakteri tunggal tidak direkomendasikan.

Regimen 2 minggu menggunakan trikalium disitratobismutat dengan penghambat pompa proton dan dua antibakteri mungkin memiliki peran pada penanganan kasus yang resisten setelah dilakukan konfirmasi adanya H. pylori.

Tinidazol atau tetrasiklin dapat pula digunakan untuk eradikasi H. pylori; obat-obat ini sebaiknya dikombinasi dengan obat penghambat sekresi asam dan antibakteri lain.

Tidak ada bukti yang memadai untuk mendukung terapi eradikasi pada pasien anak-anak, yang terinfeksi H. pylori namun tetap menggunakan AINS.

Tukak yang disebabkan oleh AINS

Perdarahan saluran cerna dan tukak dapat terjadi pada penggunaan AINS (bagian 12.1.1). Jika memungkinkan, penggunaan AINS sebaiknya dihentikan pada keadaan ini. Pada individu yang berisiko mengalami tukak, penghambat pompa proton atau antagonis reseptor-H2 seperti ranitidin diberikan dua kali dosis lazim, atau misoprostol dapat dipertimbangkan untuk mencegah tukak lambung dan tukak duodenum yang disebabkan oleh AINS; reaksi kolik dan diare dapat membatasi dosis misoprostol.

Pada pasien yang sedang dalam terapi AINS, eradikasi H. pylori tidak direkomendasikan karena tidak akan mengurangi risiko perdarahan atau tukak akibat AINS. Akan tetapi, pasien yang baru memulai terapi AINS jangka panjang dengan H. pylori positif atau memiliki riwayat tukak lambung atau tukak duodenum, eradikasi H. pylori dapat mengurangi risiko tukak.

Jika pemberian AINS dapat dihentikan pada pasien yang mengalami tukak, penghambat pompa proton biasanya menghasilkan penyembuhan yang lebih cepat, tetapi tukaknya dapat diterapi dengan antagonis reseptor-H2 atau misoprostol.

Jika terapi AINS perlu diteruskan, hal-hal berikut dapat dilakukan:

  • Atasi tukak dengan penghambat pompa proton dan selama penyembuhan tetap dilanjutkan dengan pemberian penghambat pom proton (dosis tidak perlu dikurangi karena dapat terjadi tukak yang bertambah parah tanpa disertai gejala)
  • Atasi tukak dengan penghambat pompa proton dan dilanjutkan dengan misoprostol selama penyembuhan sebagai terapi pemeliharaan (kolik dan diare dapat terjadi, yang memerlukan pengurangan dosis)
  • Atasi tukak dengan penghambat pompa proton dan kemudian ganti AINS dengan AINS yang selektif yaitu COX-2.
Tabel 1.1 Rekomendasi Regimen untuk eradikasi Helicobacter pylori
Penekan Asam Antibakteri
Amoksisilin Klaritromisin Metronidazol

Esomeprazol

20 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari 500 mg, 2 kali sehari -
- 500 mg, 2 kali sehari 400 mg, 2 kali sehari

Lansoprazol

30 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari 500 mg, 2 kali sehari -
1 g, 2 kali sehari - 400 mg, 2 kali sehari
- 500 mg, 2 kali sehari 400 mg, 2 kali sehari

Omeprazol

20 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari 500 mg, 2 kali sehari -
500 mg, 3 kali sehari - 400 mg, 2 kali sehari
- 500 mg, 2 kali sehari 400 mg, 2 kali sehari

Pantoprazol

40 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari 500 mg, 2 kali sehari -
- 500 mg, 2 kali sehari 500 mg, 2 kali sehari

Rabeprazol

20 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari 500 mg, 2 kali sehari -
- 500 mg, 2 kali sehari 400 mg, 2 kali sehari

Ranitidin bismuth sitrat

400 mg, 2 kali sehari

1 g, 2 kali sehari 500 mg, 2 kali sehari -
1 g, 2 kali sehari - 500 mg, 2 kali sehari
- 500 mg, 2 kali sehari 500 mg, 2 kali sehari

 

 

Tabel 1.2 Rekomendasi Regimen untuk eradikasi Helicobacter pylori pada anak
Terapi Eradikasi Usia

Dosis Oral

(untuk digunakan dalam kombinasi omeprazol)

Amoksisilin 1 - 6 tahun 250 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
125 mg, 3 kali sehari (dengan metronidazol)
6 - 12 tahun 500 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
250 mg, 3 kali sehari (dengan metronidazol)
12 - 18 tahun 1 g, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
500 mg, 3 kali sehari (dengan metronidazol)
Klaritromisin 1 - 2 tahun 62,5 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
2 - 6 tahun 125 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
6 - 9 tahun 187,5 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
9 - 12 tahun 250 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
12 - 18 tahun 500 mg, 2 kali sehari (dengan metronidazol atau amoksisilin)
Metronidazol 1 - 6 tahun 100 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
100 mg, 3 kali sehari (dengan amoksisilin)
6 - 12 tahun 200 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
200 mg, 3 kali sehari (dengan amoksisilin)
12 - 18 tahun 400 mg, 2 kali sehari (dengan klaritromisin)
400 mg, 3 kali sehari (dengan amoksisilin)

 

Antitukak dibagi dalam 4 sub-sub kelas terapi sebagai berikut:
1.3.1 Antagonis reseptor-H2
1.3.2 Kelator dan senyawa kompleks
1.3.3 Analog prostaglandin
1.3.4 Penghambat pompa proton